Wali Kota Solok Bagikan Pengalaman Kepemimpinan kepada Santri ICBS Payakumbuh

Wali Kota Solok Bagikan Pengalaman Kepemimpinan kepada Santri ICBS Payakumbuh

Solok, InfoPublikSolok – Kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang, pengalaman berorganisasi, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar. Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Solok, Dr. H. Ramadhani Kirana Putra, S.E., M.M., saat berdialog dengan tiga santri Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh di ruang kerjanya, Senin (19/10).

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari ICBS Fellowship Program Tahun 2026, yang memberikan kesempatan kepada para santri untuk berdialog langsung dengan tokoh dan pemimpin daerah. Melalui program ini, para santri diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai kepemimpinan, pengabdian, serta peran generasi muda dalam pembangunan.

Tiga santri yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Abdurrahman Hasan Al Banna Dinata, Wahid Ramadhan, dan Aditya Rifqi. Dalam dialog itu, mereka menggali pengalaman Ramadhani, mulai dari perjalanan karier dan aktivitas organisasi hingga langkah nyata yang dapat dilakukan generasi muda untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Menjawab pertanyaan Hasan mengenai perjalanan kariernya hingga menjadi kepala daerah, Ramadhani menceritakan bahwa dirinya menempuh pendidikan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Kota Solok. Semasa kuliah, ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solok, terlibat dalam kepengurusan HMI tingkat provinsi, serta menjadi bagian dari kepengurusan organisasi tersebut di tingkat pusat.

Pengalaman berorganisasi tersebut menjadi salah satu bekal dalam perjalanan pengabdiannya sebelum memasuki pemerintahan. Ramadhani mengawali karier politik sebagai Anggota DPRD Kota Solok periode 2014–2019, kemudian kembali menjabat pada periode 2019–2020. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Wakil Wali Kota Solok periode 2021–2025 mendampingi Wali Kota Zul Elfian, sebelum terpilih menjadi Wali Kota Solok untuk periode 2025–2030.

Menurut Ramadhani, organisasi merupakan ruang pembelajaran untuk memahami persoalan sosial, membangun komunikasi, dan mengenali kebutuhan masyarakat. Melalui organisasi, seseorang juga belajar bekerja sama, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas amanah yang diberikan.

Dalam kesempatan tersebut, Hasan turut menyampaikan pengalamannya melihat dan merasakan dukungan Pemerintah Kota Solok terhadap upaya melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an. Pengalaman itu memberinya gambaran mengenai peran pemerintah daerah dalam mendukung pembinaan generasi muda, termasuk di bidang keagamaan.

Sementara itu, Wahid Ramadhan mengajukan pertanyaan mengenai langkah nyata yang dapat dilakukan generasi muda untuk mendukung pembangunan daerah.

Menanggapi hal tersebut, Ramadhani menegaskan bahwa kontribusi tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kesungguhan dalam belajar, kedisiplinan, pemanfaatan waktu secara produktif, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri merupakan langkah awal yang dapat dilakukan setiap pelajar.

Ia juga mengingatkan para santri agar menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam membentuk karakter dan menjalani kehidupan sehari-hari.

“Fokuslah belajar dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Belajarlah dari setiap proses, karena proses yang baik akan mengantarkan kita pada hasil yang baik. Jangan tinggalkan salat dan tetaplah menjaga nilai-nilai agama dalam kehidupan,” pesannya.

Ramadhani berharap para santri terus mengembangkan potensi diri, memperluas wawasan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Menurutnya, menjadi pemimpin masa depan bukan sekadar tentang meraih jabatan, melainkan juga membangun karakter, menjaga integritas, dan memiliki kemauan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Usai pertemuan, Hasan mengungkapkan bahwa dialog langsung dengan Wali Kota Solok memberinya pelajaran berharga mengenai proses membangun kepemimpinan. Pengalaman Ramadhani dalam berorganisasi hingga mengemban amanah di pemerintahan memberinya pemahaman bahwa menjadi pemimpin membutuhkan persiapan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar.

“Dari pertemuan ini, saya belajar bahwa menjadi pemimpin membutuhkan proses dan persiapan sejak dini. Kita harus terus belajar, mengembangkan diri, dan menjaga nilai-nilai agama agar kelak bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Hasan.

Melalui ICBS Fellowship Program Tahun 2026, para santri memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat pengalaman kepemimpinan dan pengabdian di pemerintahan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif mereka sekaligus mendorong generasi muda untuk mulai mengambil peran positif di lingkungan masing-masing, sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya.


Komentar

Tinggalkan komentar