Mimori Diluncurkan, Perkuat Pengembangan Kelor sebagai Produk Unggulan Kota Solok
Solok, InfoPublikSolok – Pengembangan kelor (Moringa oleifera) di Kota Solok terus diarahkan tidak hanya pada kegiatan budidaya, tetapi juga pengolahan hasil dan perluasan pemasaran. Upaya tersebut diperkuat melalui peluncuran UMKM Mimori sebagai rumah produksi, pemasaran, dan edukasi kelor di Jalan Dt. Perpatih Nan Sabatang Nomor 58, Kota Solok, Selasa (20/10/2026).
Pengembangan ini melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Kota Solok, kelompok tani, serta dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan hasil riset dengan kegiatan budidaya, pengolahan produk, dan pengembangan usaha masyarakat.
Manajer PLN UP3 Solok, Hariani, menyampaikan bahwa kehadiran Mimori diharapkan menjadi wadah bagi pengembangan produk berbasis kelor, peningkatan keterampilan pelaku usaha, serta perluasan akses pasar. Rumah produksi ini juga diharapkan dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat mengenai pemanfaatan kelor dan pengembangan produk turunannya.
Koordinator pengelola Mimori, Syofiyatri, menjelaskan bahwa Mimori telah menghasilkan sedikitnya 12 jenis produk berbahan kelor. Sebagian besar produk tersebut dilaporkan telah memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal melalui fasilitasi perangkat daerah terkait.
Untuk memperluas pengenalan produk kepada masyarakat, Mimori bersama kelompok tani turut berpartisipasi dalam kegiatan Rang Solok Baralek Gadang pada 10–13 Oktober 2026. Keterlibatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan produk olahan kelor sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kota Solok, Edi Haryanto, mengungkapkan bahwa pengembangan produksi dan olahan pangan berbahan kelor telah dirintis sejak akhir 2024. Pada 2025, Dinas Pertanian dan Pangan memberikan dukungan melalui bimbingan teknis dan penyediaan sarana produksi. Upaya tersebut kemudian diperkuat pada 2026 melalui dukungan pendanaan program TJSL PLN Peduli.
Berdasarkan laporan ketua kelompok tani, dukungan TJSL PLN Peduli mencapai Rp145 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk pelatihan budidaya dan pengolahan kelor, pengadaan peralatan, penyiapan rumah produksi, serta peluncuran UMKM Mimori.
Pengembangan kelor ini berawal dari Kelompok Tani Wanita Sepakat Air Masin dan kini telah melibatkan sedikitnya 11 kelompok tani di Kota Solok. Perluasan keterlibatan kelompok tersebut membuka peluang penguatan rantai usaha, mulai dari penyediaan bahan baku oleh petani hingga pengolahan dan pemasaran produk oleh pelaku UMKM. Keterlibatan kelompok wanita tani juga memberikan ruang bagi perempuan untuk meningkatkan keterampilan dan mengembangkan usaha keluarga.
Dari sisi penelitian, BRIN turut mendukung pengembangan kelor melalui identifikasi pohon induk lokal dan penyediaan bahan tanam. Peneliti Pusat Riset Sistem Biota ORHL BRIN, Hery Kurniawan, menjelaskan bahwa pemetaan pohon induk menjadi langkah awal untuk mengenali sumber daya kelor yang tersedia sekaligus mendukung proses seleksi tanaman.
Informasi yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat menjadi dasar penelitian lanjutan mengenai keragaman tanaman dan pengembangan bahan perbanyakan. Upaya pemuliaan dilakukan secara bertahap melalui pengamatan dan pengujian untuk memperoleh rekomendasi bahan tanam yang sesuai dengan kebutuhan budidaya.
Salah satu sasaran pendampingan penelitian BRIN adalah pembangunan kebun benih semai untuk mendukung ketersediaan bahan tanam dan pengembangan kelor di Kota Solok. Kolaborasi Pusat Riset Sistem Biota dan Pusat Riset Hortikultura BRIN bersama Pemerintah Kota Solok juga telah mengidentifikasi sejumlah pohon induk kelor lokal yang berpotensi didaftarkan sebagai sumber benih.
Di tingkat budidaya, kebun produksi kelor telah dikembangkan di kawasan Taratak dan Langkok, Kelurahan Tanah Garam. Pengembangannya mendapat dukungan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Solok, penyuluh Kementerian Pertanian, serta program TJSL PLN Peduli. Keberadaan kebun tersebut diharapkan dapat mendukung ketersediaan bahan baku bagi pengolahan produk sekaligus menjadi sarana pembelajaran budidaya bagi masyarakat.
Selain membuka peluang ekonomi, pengembangan kelor juga berkaitan dengan upaya diversifikasi pangan lokal dan pemanfaatan sumber daya pertanian. Dengan pengolahan yang tepat, kelor berpotensi dikembangkan menjadi beragam produk pangan yang memiliki nilai tambah.
Ke depan, BRIN berencana melanjutkan pendampingan penelitian dan pengembangan kelor di Kota Solok dengan peluang pengembangan yang lebih luas di Sumatera Barat. Sinergi antara pemerintah daerah, peneliti, kelompok tani, UMKM, dan mitra pendanaan diharapkan dapat menjaga kesinambungan antara hasil penelitian, ketersediaan bahan baku, dan pengembangan pasar.
Melalui pengembangan tersebut, kelor diharapkan tidak hanya menjadi tanaman yang tumbuh di lingkungan masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai komoditas bernilai ekonomi yang mendukung pemberdayaan petani, penguatan UMKM, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Solok.
























