Cegah Kekerasan dan Penyimpangan Seksual pada Anak, DPMPPA Gelar Pertemuan dengan Orang Tua Murid SLTA

Cegah Kekerasan dan Penyimpangan Seksual pada Anak, DPMPPA Gelar Pertemuan dengan Orang Tua Murid SLTA

Solok, (Info Publik Solok) – Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) di bawah Bidang Perlindungan Pemenuhan Hak Anak dan Data Seksi Kelembagaan Hak Sipil dan Lingkungan Keluarga mengadakan kegiatan pertemuan -peningkatan pengetahuan orang tua murid SLTA se-Kota Solok, bertempat di aula DPMPPA Kota Solok, Selasa (24/5/2022).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kekerasan dan penyimpangan seksual pada anak. Dihadiri oleh Kabid Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak Data dan Informasi Jufni didampingi Kasi Kelembagaan Hak Sipil dan Lingkungan Keluarga Ibu Eva Lisnita beserta staff, serta narasumber dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Barat, Rosmadeli, SKM, M.Biomed. dan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Sumatera Barat, Vinola Maretha Roeza, M.Psi., dan 30 orang tua murid SLTA se-Kota Solok.

Dalam sambutannya, Jufni mengatakan kekerasan terhadap anak semakin marak dan meningkat jumlahnya, hal yang sangat memprihatinkan adalah berita di media massa hampir setiap hari terlihat dan terdengar.

Kekerasan terhadap anak merupakan tindakan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Di samping itu juga meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990 serta telah menyiapkan perangkat hukum terkait dengan Perlindungan Anak yaitu melalui UU N0. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang telah direvisi menjadi UU No. 35 Tahun 2014,” jelas Jufni.

Selain kekerasan terhadap anak, kasus lain yang juga menjadi perhatian adalah kasus penyimpangan seksual terhadadap anak-anak. Hal tersebut tentu dapat menimbulkan trauma berat bagi anak yang mengalaminya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengambil langkah untuk melindungi anak dari pelaku penyimpangan seksual.

Kabid Jufni menjelaskan penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang melibatkan aktivitas, situasi, subjek, atau objek yang tidak lazim dan umumnya tidak menimbulkan dorongan seksual pada orang lain. Hingga saat ini, penyebab penyimpangan seksual belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat memicu perilaku ini, seperti factor genetika atau trauma masa kecil akibat pelecehan seksual.

“Siapapun termasuk anak-anak, bisa mengalami penyimpangan seksual. Oleh sebab itu penting bagi orang tua untuk mengenal jenis-jenis penyimpangan seksual dan menerapkan langkah-langkah untuk melindungi anak dari pelakunya,” tambahnya.

Kegiatan ini, lanjutnya, sangat membutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh untuk dapat melakukan pencegahan kekerasan dan penyimpangan seksual anak melalui pertemuan koordinasi, advokasi, diskusi terbatas, peningkatan penyadaran, kampanye penyuluhan, dialog multi pihak, penguatan kapasitas institusi terintegrasi dan keberlanjutan.

“Saya berharap pada peserta untuk dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik sampai selesai sehingga bisa menambah pengetahuan dan wawasan dalam mencegah dan menangani jika terjadi kasus kekerasan dan penyimpangan seksual anak. Diharapkan dengan adanya acara pertemuan ini dapat meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pencegahan kekerasan dan penyimpangan seksual anak,” harap Jufni. (oh)