Dinas Kesehatan Adakan Pertemuan LS/LP Tentang Kekerasan Terhadap Anak/Perempuan

Dinas Kesehatan Adakan Pertemuan LS/LP Tentang Kekerasan Terhadap Anak/Perempuan

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan adakan pertemuan LS/LP tentang kekerasan terhadap anak / kekerasan terhadap perempuan, di aula Dinas Kesehatan, Selasa (23/07/2019).

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan dalam hal ini diwakili oleh Kabid P2 dan Kesmas dr. Pepy Ledy Soffiany, turut hadir dari Dinas PPPA, Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat, Ns. Aprinur Azwira, S.Kep beserta staf , Kepala Sekolah SMP dan SMA Se-Kota Solok , Camat, se Kota Solok, Babinsa Kota, dan Babinkamtimnas. Narasumber berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Kasi Kesga dan Gizi dr. Hendrapala Wahid.

Dalam pembukaan, dr. Pepy Ledy Soffiany mengatakan kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan pelanggaran hak asasi manusia, pelanggaran norma sosial dan kemanusiaan.

“Perempuan dan anak sampai dengan sekarang masih sering mengalami berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi dalam lingkup sosial dan budaya, baik yang terjadi dilingkungan rumah tangga maupun diluar rumah tangga, dalam hal ini telah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia,” ungkapnya.

Pepy Ledy Soffiany menyampaikan kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah menjadi isu nasional dan rencana pembangunan jangka menengah nasional 2005 – 2025.

“Penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan prioritas utama didalam program pembangunan pemberdayaan perempuan,” tuturnya.

Narasumber dr. Hendrapala Wahid mengatakan berdasarkan laporan terdapat 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan dari total jumlah kasus yang dilaporkan 71 % adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan ranah pacaran (RP) jenis kekerasan yang banyak di temui 41% fisik, 31% Seksual, 15% Psikis, dan 13% ekonomi.

“Beberapa point tentang kekerasan terhadap perempuan dimana 1 dari 3 perempuan usia 15 – 64 th mengalami kekerasan fisik dan atau seksual oleh pasangan dan selain pasangan, 1 dari 10 perempuan usia 15 – 64 th mengalaminya dalam 12 bulan terakhir. Kekerasan fisik atau seksual cenderung lebih tinggi dialami perempuan yang tinggal diperkotaan, lebih banyak dialami perempuan usia 15 – 64 th dengan latar belakang SMA”, tuturnya.

Lebih lanjut, dr. Hendrapala Wahid menjelaskan hak-hak korban kekerasan terhadap perempuan dan anak menurut UU No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yaitu Korban berhak mendapatkan perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan, Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis, Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban, Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum setiap tingkat proses pemeriksaan, dan Pelayanan bimbingan rohani. (es)

Tags: , , , , ,