Dinas Kesehatan Bentuk Jejaring Tuberkulosis

Dinas Kesehatan Bentuk Jejaring Tuberkulosis

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan adakan kegiatan pembentukan jejaring Tuberkulosis (TB) bagi petugas Puskesmas tahun 2019, di aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Senin (7/10/2019). Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan yang diwakili oleh Kabid P2 dan Kesmas dr. Pepy Ledy Soffiany dan Kasi P2 Ns. Silvia Yuniwarti beserta Staf, 50 orang peserta yang terdiri dari Dokter, Perawat, Bidan dan pengelola program TB (Tuberkulosis) dengan narasumber Dr. Wafda Aulia, SP.P dan Yuhartini, SKM, MKM Kasie P2M Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar.

Penyakit paru merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan nasional bahkan mendunia, karena menyerang pada bagian paru- paru, bisa menular kepada orang laindan bisa di obati dengan minum obat rutin selama 6-8 bulan. Seseorang yang terkena TB yang tidak diobati, dapat menyebarkan kuman TB atau menularkan kuman TB kepada orang lain 10 – 15 orang jika kontak dekat selama 1 tahun. Kuman TB dapat tersebar ke udara pada saat penderita batuk, bersin atau berbicara.

Dalam sambutannya, Kabid P2 Kesmas dr. Pepy Ledy Soffiany mengatakan Kegiatan pembentukan jejaring TB bertujuan agar terciptanya hubungan kerjasama terintegrasi antara pemberi pelayanan baik pemerintah maupun swasta dalam bentuk PPM (Public Private Mix) sehingga setiap Pasien TB mendapatkan kemudahan akses pelayanan yang berkualitas.

“Sehubungan dengan target eliminasi TB di Indonesia dipercepat yang sebelumnya ditargetkan tahun 2035 tercapai menjadi 2030, maka perlu upaya – upaya strategis untuk dapat mencapai target tersebut, salah satunya dengan membentuk jejaring TB di Kota Solok, Oleh sebab itu diharapkan dengan adanya pembentukan jejaring TB di Kota Solok, sehingga mampu memperbaiki program P2P khususnya Program TB Dinas Kesehatan Kota Solok,” ungkap Pepy Ledy.

Dalam materinya, Dr. Wafda Aulia, SP.P menjelaskan tentang Penemuan Pasien Tuberkulosis (TB) dimana Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis (TB)  Mycobacterium Tuberculosis, sebagian besar kuman Bakteri Tahan Asam (BTA) menyerang paru, dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Pasien TB paru menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Sumber penularan adalah pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis, pencegahan utama dengan menemukan pasien TB secara dini serta mengobati sampai tuntas. Temukan pasien yang mempunyai gejala TB dengan ciri batuk berdahak disertai darah, panas badan, nyeri dada dan gejala penyakit paru lainnya, diagnosis pasti Pasien TB dengan cara pemeriksaan labolatorium, ungkapnya.

Sementara itu, Yuhartini, SKM, MKM mengatakan jejaring layanan TB dalam satu kabupaten/kota yang melibatkan semua Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) melalui dukungan  organisasi profesi dan kemasyarakatan, yang dikoordinasikan oleh  Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Dinkes Kab/Kota). Seluruh fasyankes yang menangani kasus TB harus mencatat kasus TB  yang ditanganinya dan melaporkan kepada Puskesmas/Dinas Kesehatan. Tujuannya untuk meningkatkan kegiatan kolaborasi layanan antar unit pelayanan, mengurangi terjadinya keterlambatan diagnosis TB (delayed-diagnosis) dan kasus  TB yang tidak terlaporkan (under reporting), Pembentukan Tim DOTS ( Directly Observed Treatment Short Course) atau yang disebut strategi pengawasan langsung pengobatan jangka pendek yang melibatkan semua unit pelayanan/instalasi yang ada di  rumah sakit dan Memastikan kasus TB dilaporkan secara  berkala melalui sistem informasi program tuberkulosis, ungkapnya. (es)

Tags: , , , , ,