Dinas Kesehatan Hadirkan Empat Pembicara di Seminar Tuberkulosis dan Gizi

Dinas Kesehatan Hadirkan Empat Pembicara di Seminar Tuberkulosis dan Gizi

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok menghadirkan empat pembicara dalam Seminar menyambut Hari TB (Tuberkulosis) se-dunia dan HUT Gizi Nasional ke-59 di Gedung Kubuang Tigo Baleh, Kamis (28/3/2019).

Pembicara tersebut adalah dr. H. Armen Ahmad Sp.PD-KPTI, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Penyakit Tropik RSUP M. Djamil Padang, Dr. dr. Masrul, M.Sc, Sp.GK, Dosen Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Unand, dr. Wafda Aulia. Sp.P, Spesialis Penyakit Paru RSU M. Natsir serta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Merry Yuliesdai, MARS.

Seminar ini melibatkan 360 orang yang terdiri dari Kader TB dan Kader posyandu se-Kota Solok  seluruh OPD terkait, LKAAM, Bundo Kandung, dengan mengusung tema “Saatnya Indonesia Bebas TBC mulai dari Saya, Melalui Peningkatan Gizi Keluarga”.

Seminar ini turut dihadiri oleh Wakil Walikota Solok, Reinier, Ketua TP-PKK Kota Solok, Ny. Zulmiyetti Zul Efian, Ketua GOW Kota Solok, Ny. Ria Rusdianto, Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok dr. Hj. Ambun Kadri, MKM.

Ketua Pelaksana seminar, Dr. Hj. Ambun Kadri, MKM, menyampaikan tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis, Gizi seimbang dan produksi pangan berkelanjutan, serta meningkatkan komitmen dan kerjasama antara pemerintah baik sektor kesehatan maupun non kesehatan dalam peningkatan status gizi sebagai pencegahan terhadap berbagai penyakit salah satunya Tuberculosis dan Stunting.

Penyampaian materi seminar dilakukan secara panel oleh para pemateri. dr. H. Armen Ahmad Sp.PD-KPTI, FINASIM, menjabarkan mengenai kasus HIV/AIDS yang kian hari kian memprihatinkan, dan penyebab diantaranya adalah Prilaku menyimpang Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT). Penyebab LGBT adalah, intern keluarga, lingkungan dan pergaulan, genetik, faktor akhlak dan moral serta faktor pendidikan agama yang rendah, serta tentang hukum bagi LGBT yang masih belum jelas.

Dilanjutkan panel kedua oleh Dr. dr. Masrul, M.Sc, Sp.GK, yang menjabarkan peranan kader dan PKK dalam pencegahan dan penanggulangan stunting di Kota Solok karena permasalahan status gizi pada anak masih tinggi terutama stunting (30,8%) dan faktor penyebabanya seperti, asupan makanan, kesakitan, pengasuhan anak, ketahanan pangan, rumah tangga, fasilitas sanitasi, kesehatan, sumber daya pengasuh, kemiskinan dan rendahnya pendidikan.

Panel ketiga disampaikan oleh pemateri dr. Wafda Aulia. Sp.P, yang memberikan informasi mengenai banyak tantangan dalam pengendalian TB diindonesia, seperti TB Multiple Drug Resistant (MDR), TB-rokok, TB dan Diabetes Melitus.

Menurutnya, pengendalian TB memerlukan partisipasi semua pihak diseluruh Tanah Air dan dukungan seluruh lapisan masyarakat, agar indonesia bebas TB tahun 2050 dapat terwujud.

Masyarakat pun berperan penting dalam membantu penemuan kasus dan memastikan keberlanjutan pengobatan warganya sampai dinyatakan sembuh. Peran keluarga pada gerakan ini sangat penting, karena semangat dan kepatuhan pasien untuk minum dan menelan obat ditentukan oleh dukungan
keluarga dengan gerakan TOSS TB (Temukan TB obati Sampai Sembuh).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat dr. Merry Yuliesdai, MARS, menyampaikan bahwa upaya perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam kandungan sampai lanjut usia, dengan prioritas pada kelompok rawan, yaitu bayi dan balita, remaja perempuan, ibu hamil dan ibu menyusui.

Peran Posyandu dan Kader harus terus ditingkatkan dengan optimal dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan balita di daerahnya.

Pada kesempatan seminar ini, Wakil Walikota dalam sambutannya  menyampaikan salah satu prioritas pembangunan kesehatan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional adalah perbaikan gizi, khususnya stunting (pendek/kerdil), karena hal ini merupakan faktor predictor rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang dampaknya menimbulkan resiko penurunan kemampuan produktif suatu bangsa. (es)

Tags: , , , , ,