Dinas Kesehatan Lakukan Evaluasi Penggunaan Obat Rasional Tahun 2019

Dinas Kesehatan Lakukan Evaluasi Penggunaan Obat Rasional Tahun 2019

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan melakukan evaluasi Penggunaan Obat Rasional (POR) Tahun 2019, di aula Puskesmas Tanah Garam, Rabu (14/8/2019). Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan yang diwakili oleh Kabid PPSDK, dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes, dan Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan, Wendri Herman, MKM, Kepala Puskesmas beserta Dokter, Apoteker, Penanggung Jawab Laporan Farmasi dan Kepala IFAL ( instalasi Farmasi Alat Kesehatan ) dengan Narasumber Kepala Seksi Farmasi Dinas Kesehatan Provinsi Elno Sabri.S.Si.Apt .

Obat merupakan Komponen essensial dari suatu pelayanan kesehatan, dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien, mutu obat yang diberikan harus terjamin. Oleh karena itu diperlukan sistem pengelolaan obat yang benar, efektif dan efesien. Pengelolaan ini mencakup perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penggunaan (distribusi) dan pelaporan.

Penggunaan obat rasional mencakup segala aspek pelayanan kesehatan baik pelayanan medik maupun pelayanan kefarmasian, pelayanan medik yang meliputi upaya preventif, kuratif, promotif, dan rehabilitatif ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan farmasi merupakan pelayanan penunjang yang membantu pelayanan medik mencapai tujuannya melalui penyediaan obat yang bermutu, tersedia dalam jumlah cukup, mudah didapat dengan harga terjangkau.

Dalam sambutannya, Kabid PPSDK, dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes, mengatakan penyediaan obat yang cukup, obat yang tepat dan berkualitas dalam jumlah yang cukup sesuai dengan yang dibutuhkan sangat dipengaruhi oleh ketepatan permintaan dari unit pelayanan. Dengan demikian pengelolaan dan penggunaan obat merupakan suatu siklus yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Keluaran dari proses pengobatan merupakan masukkan bagi proses penyediaan obat, tuturnya.

Dalam materinya, Elno Sabri.S.Si.Apt mengatakan Penggunaan Obat Rasional (POR) bertujuan untuk mengetahui apakah praktek penggunaan obat yang dilakukan telah sesuai dengan pedoman pengobatan, target minimalnya yaitu kebiasaan injeksi, pemakaian antibiotik yang tidak rasional, praktek polifarmasi, ketaatan gunakan pedoman pengobatan, jaminan kecukupan, mencegah kekosongan obat, dan penggunaan obat  yang benar oleh pasien. Cara pemantauan secara langsung yaitu mengamati proses pengobatan berupa Anamnesis, pemeriksaan pasien, penulisan resep, peracikan obat, dan penyerahan obat, sedangkan pemantauan secara tidak langsung yaitu dari kartu status pasien, dari buku registrasi pasien dan status pasien.

Lebih lanjut, Elno Sabri.S.Si.Apt mengatakan pemantauan dilakukan terhadap kesesuaian antara pengobatan yang diberikan dengan pedoman pengobatan, ketepatan jenis, jumlah, cara dan lama pemberian, penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas (mis AB untuk ISPA Non Pneumoni), praktek polifarmasi, ketepatan indikasi dan kesesuaian obat dengan kondisi pasien (pemberian injeksi pada diare). Diagnosa indikatornya adalah ISPA non pneumonia, diare non spesifik, penyakit sistem otot dan jaringan (myalgia), dan Jumlah Rata-rata item obat. Ada 5 dasar pemilihan POR yaitu termasuk 10 penyakit terbanyak, diagnosis dapat ditegakkan tanpa pemeriksaan penunjang, pedoman terapi jelas, tidak memerlukan antibiotika/ injeksi dan selama ini potensial untuk diterapi tidak rasional. (es)

Tags: , , , ,