Hidroponik, Sayuran Sehat Hobi Tersalurkan

Hidroponik, Sayuran Sehat Hobi Tersalurkan

Solok, (InfoPublikSolok) – Hobi bercocok tanam? atau butuh sayuran yang terjamin bebas pestisida? sementara lahan sangat terbatas.

Tenang saja, Anda dapat menyalurkan hobi sekaligus mempercantik halaman rumah dan menghasil sayuran sehat sendiri tanpa menggunakan tanah. Teknologi Budidaya dengan Hidroponik adalah solusinya.

Hidroponik adalah teknologi budidaya tanaman, khususnya sayuran tanpa menggunakan media tanah. Tanaman yang dapat dibudidayakan dengan hidroponik adalah tanaman umur pendek seperti Kangkung, Bayam dan Selada.

Sebagai pengganti tanah, media yang digunakan adalah air yang diisi pecahan genting, pecahan batubata, sabut kelapa, kerikil atau gabus putih. Tempat yang digunakan bisa ember, paralon, pot atau barang bekas yang bisa menampung air.

Hidroponik sebenarnya sudah dikembangkan sejak dahulu kala, bahkan menurut beberapa literatur sejak Zaman Babilon dengan taman gantungnya dan Zaman Peradaban Cina dengan taman terapungnya.

Selanjutnya di India dan Mesir juga sering memupuk tanaman umur pendek seperti semangka dan mentimun dalam bedengan pasir di tepi sungai dengan menggunakan pupuk organik yang kemudian dikenal dengan nama River Bed Cultivation.

Berawal dari situ, muncullah kemudian istilah water culture, solution culture dan gravel bed culture.

Sementara istilah hidroponik sendiri ada sejak tahun 1936 dari hasil penelitian Dr. WF. Gericke, seorang agronomis dari Universitas California, Amerika Serikat dengan tanaman tomat setinggi 3 meter yang penuh buah padahal ditanam tanpa tanah.

Ada beberapa teknik hidroponik, yaitu:

1. Wick System
Wick system merupakan teknik yang paling sederhana dan populer digunakan oleh para pemula. Sistem ini termasuk pasif dan nutrisi mengalir ke dalam media pertumbuhan dari dalam wadah menggunakan sejenis sumbu. Wick sistem hidroponik bekerja dengan baik untuk tanaman dan tumbuhan kecil. Sistem hidroponik ini tidak bekerja dengan baik untuk tanaman yang membutuhkan banyak air.

2. Ebb & Flow System
Sebuah media tumbuh ditempatkan di dalam sebuah wadah yang kemudian diisi oleh larutan nutrisi. Kemudian nutrisi dikembalikan ke dalam penampungan, dan begitu seterusnya. Sistem ini memerlukan pompa yang dikoneksikan ke timer. Pastikan Anda menggunakan wadah yang cukup besar dan atur jarak antar tanaman agar pertumbuhan tanaman tidak saling mengganggu.

3. NFT (Nutrient Film Technique) System
Sistem ini merupakan cara yang paling populer dalam istilah hidroponik. Konsepnya sederhana dengan menempatkan tanaman dalam sebuah wadah atau tabung dimana akarnya dibiarkan menggantung dalam larutan nutrisi. Sistem ini dapat terus menerus mengalirkan nutrisi yang terlarut dalam air sehingga tidak memerlukan timer untuk pompanya. NFT cocok diterapkan pada jenis tanaman berdaun seperti selada.

4. Aeroponic System
Kecanggihan sistem ini memungkinkan Anda memperoleh hasil yang baik dan tercepat dibandingkan sistem hidroponik lainnya. Hal ini disebabkan oleh larutan nutrisi yang diberikan berbentuk kabut langsung masuk ke akar, sehingga tanaman lebih mudah menyerap nutrisi yang banyak mengandung oksigen.

5. Drip System
Selain wick system, sistem tetes (drip system) merupakan cara yang populer yang digunakan dalam berkebun hidroponik. Sistem ini menggunakan timer mengontrol pompa, sehingga pada saat pompa dihidupkan, pompa akan meneteskan nutrisi ke masing-masing tanaman.

6. Water Culture System
Dalam sistem hidroponik ini, akar tanaman yang tersuspensi dalam air yang kaya nutrisi dan udara diberikan langsung ke akar. Tanaman dapat ditempatkan di rakit dan mengapung di air nutrisi juga. Dengan sistem hidroponik ini, akar tanaman terendam dalam air dan udara diberikan kepada akar tanaman melalui pompa akuarium dan diffuser udara. Semakin gelembung yang lebih baik, tanaman akar akan tumbuh dengan cepat untuk mengambil air nutrisi.

7. Bubbleponics (Sistem Gelembung)
Metode tanaman hidroponik yang dikenal sebagai Deep Water Culture yaitu menumbuhkan tanaman secara mengambang diatas larutan nutrisi. Tanaman ditahan menggunakan jaring dengan akar tanaman didalam air. Larutan nutrisi aliri gelembung udara yang memperkaya oksigen dalam larutan yang berguna bagi akar untuk tumbuh. Pada masa awal pertumbuhan akar, larutan nutrisi dipompakan melalui pembentuk gelembung untuk memperkaya kandungan oksigen didalam larutan yang terbukti membantu pertumbuhan akar dari tanaman. Inilah yang dikenal sebagai metode Bubbleponic.

8. DFT Sistem (Deep Flow Technique)
DFT sistem adalah cara menanam tanaman dengan mensirkulasikan larutan nutrisi tanaman secara terus-menerus selama 24 jam pada rangkaian aliran tertutup. Larutan nutrisi tanaman di dalam tangki dipompa oleh pompa air menuju bak penanaman melalui jaringan irigasi pipa, kemudian larutan nutrisi tanaman di dalam bak penanaman dialirkan kembali menuju tangki.

9. Sistem Fertigasi
Sistem fertigasi tanaman hidroponik adalah teknik aplikasi yang menggunakan unsur hara melalui sistem irigasi. Fertigasi merupakan singkatan dari fertilisasi atau (pemupukan) dan irigasi. Dalam menggunakan teknik fertigasi biaya untuk pemupukan dapat dikurangi, karena pupuk diberikan bersamaan dengan penyiraman. Selain itu, peningkatan efisiensi penggunaan unsur hara karena pupuk diberikan dalam jumlah sedikit tetapi kontinyu; serta mengurangi kehilangan unsur hara (khususnya nitrogen) akibat leaching atau pencucian dan denitrifikasi (kehilangan nitrogen akibat perubahan menjadi gas).

10. Bioponic
Metode tanam bioponik merupakan metode budidaya tanaman hybrid yang menggabungkan antara sistem tanam hidroponik dengan sistem pertanian organik. Metode ini ditemukan untuk mengatasi masalah-masalah dan menggabungkan keuntungan dari dua metode tanam tersebut. Jadi, metode bioponik adalah sistem hidroponik yang menggunakan nutrisi organik yang berasal dari bahan-bahan alami.

Untuk itu, anda yang mempunyai hobi bertanam namun tidak mempunyai lahan yang luas, silakan dipilih beberapa teknik bercocok tanam tanpa tanah di atas. Hobi tersalurkan, sayuran sehat tersedia bahkan bisa mendatangkan penghasilan. (fa)

Sumber:
1. Lingga, Pinus. 2006. Hidroponik, Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.
2. https://www.bertaniorganik.com/2018/07/28/10-macam-sistem-hidroponik-yang-sering-digunakan/

Tags: , , , , , ,