Jumlah Kasus Kekerasan Pada Anak di Indonesia Terus Meningkat

Jumlah Kasus Kekerasan Pada Anak di Indonesia Terus Meningkat

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) mengadakan acara Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (KTPA) serta Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), bertempat di Aula DPPPA Kota Solok, Rabu hingga Kamis (13 s.d 14/10/21).

Sosialisasi ini dihadiri oleh 70 orang perwakilan Siswa/i SLTP dan SLTA se-Kota Solok, yang dibagi dalam 2 hari kegiatan. Pada hari Rabu (13/10) dihadiri oleh 35 orang perwakilan Siswa/i SLTP se-Kota Solok dan hari Kamis (14/10) untuk 35 orang Siswa/wi SLTA se-Kota Solok.

Kepala Dinas PPPA Delfianto, S.Sos, yang didampingi oleh Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Yon Maihendri, dalam sambutannya menyampaikan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak serta Tindak Pidana Perdagangan Orang adalah untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan dan pemahaman anak tentang dampak dari kekerasan yang dialami sehingga mereka dapat melindungi diri dan menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, baik fisik maupun Psikis.

“Jumlah kasus kekerasan pada anak di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pelaku kekerasan terhadap anak justru adalah orang yang diharapkan oleh sang anak untuk mendapatkan perlindungan, orang yang dekat dengan mereka, yang patut dipercaya, seperti orang tua atau kerabat anak, keluarga, pengasuh, orang di sekitar tempat tinggal anak, dan guru,” ujar Delfianto.

Hal ini terkait dengan Pasal 9 Ayat (1a) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, mengamanatkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

“Salah satu upaya pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan adalah melalui pengenalan hak-hak anak dan bahaya kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan, yakni sekolah. Sebagai lingkungan terdekat dengan anak setelah keluarga, sekolah merupakan tempat perkembangan diri yang paling berperan dalam mempersiapkan seorang anak menjadi manusia dewasa yang sempurna,” terang Kadis.

“Dengan Kegiatan sosialisasi ini diharapkan agar anak dapat melindungi diri dan mengerti apa dampak dari tindakan kekerasan yang terjadi baik di lingkungan sekolah maupun dalam kegiatan sehari-hari serta di lingkungan sosial lainnya dan mencegah anak terlibat tindak kekerasan, baik anak sebagai pelaku maupun sebagai korban kekerasan tersebut,” tambah Delfianto.

Sosialisasi ini menghadirkan narasumber yaitu Zera Mendoza, M.Psi, Psikiater dan dr. Yupi Permana, Sp.OG dari Klinik Ananda Solok. Menurut Zera Mendoza dalam pemaparannya tentang remaja dan bahaya pornografi, ia menyampaikan bahwa, “Remaja merupakan usia peralihan dari anak-anak menuju dewasa, sedang proses pencarian jati diri dan mencari tujuan untuk masa depan sehingga jika tidak berhati-hati maka bisa salah pergaulan yang berakibat buruk di masa yang akan datang,” papar Zera.

Salah satu masalah terbesar remaja di zaman penuh teknologi sekarang ini adalah pornografi. Kemudahan dalam mengakses video/foto/konten yang berbau pornografi, membuat banyak remaja menjadi kecanduan dan dampak terburuknya adalah terjadinya kekerasan seksual.

“Cara menghindarkan diri dari pornografi diantaranya rajin dan tekun bersekolah, membiasakan diri hidup sehat dan seimbang, makan, istirahat, tidur, dan olahraga yang cukup dan teratur. Membiasakan berkonsentrasi pada saat mengikuti pelajaran atau melakukan kegiatan sehingga tetap bersemangat. Menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan sehingga terjadi keselarasan hidup, berteman, bergaul, dan bersahabat secara aman dan wajar. Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan ikut menjadi bagian penting dalam terciptanya keharmonisan keluarga, serta taat dan patuh pada hukum, aturan, dan norma yang berlaku dan berusaha menemukan ketenangan di rumah sendiri (home sweet home),” jelas Psikiater dari dari HIMPSI wilayah Sumatera Barat ini.

Hal yang sama juga disampaikan oleh dr. Yupi Permana, Sp.OG, dampak buruk pornografi terutama pada perempuan, terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan bisa membuat ibu dan bayi berada dalam bahaya karena secara fisiologis tubuh perempuan pada usia remaja masih belum matang untuk menjalani proses kehamilan dan melahirkan. (oh)

Tags: , , , , , ,