Kolaborasi dengan Penerima Beasiswa, Kominfo Terapkan Inovasi untuk Kembangkan DTS

Kolaborasi dengan Penerima Beasiswa, Kominfo Terapkan Inovasi untuk Kembangkan DTS

Jakarta, (InfoPublikSolok) – Kementerian Komunikasi dan Informatika membangun kolaborasi dengan penerima benerima beasiswa Program Beasiswa S2 Luar Negeri. Hasil inovasi itu akan diterapkan untuk proses pembelajaran dalam beasiswa pelatihan stimulan Digital Talent Scholarship (DTS).

Kepala Badan Penelitian dan Pembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kominfo Hary Budiarto menyatakan kolaborasi itu merupakan bentuk apresiasi kepada penerima beasiswa agar bisa memberikan peluang kontribusi terhadap pembangunan SDM di Indonesia.

“Diperlukan kolaborasi lebih lanjut untuk bisa menghasilkan inovasi teknologi pembelajaran untuk DTS yang lebih tepat sehingga dapat diterima oleh para peserta pelatihan DTS,” ujarnya di Jakarta, Rabu (14/07/2021).

Menurut Hary Budiarto, Kementerian Kominfo mempunyai beberapa program dalam pengembangan SDM berupa beasiswa untuk pendidikan jenjang lebih tinggi dan pelatihan bidang teknologi informasi dan komunikasi.

“Ada program pemberian beasiswa untuk melanjutkan pendidikan jenjang yang lebih tinggi dan kedua program memberikan pelatihan untuk menyediakan talenta digital nasional berupa Digital Talent Scholarship,” paparnya.

Kedua program itu, menurut Kabalitbang SDM Kementerian Kominfo merupakan upaya untuk menyiapkan talenta andal di bidang TIK.

“Pengalaman belajar dengan mengambil studi di luar negeri itu sangat penting, Bagi generasi muda dalam rangka belajar memahami budaya yang berbeda dan membangun jejaring secara internasional serta mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbaru dan sedang tren,” tuturnya.

Hary Budiarto menyatakan salah satu inovasi sebagai hasil pendidikan salah satu penerima beasiswa S2 Tahun 2019 bisa diterapkan untuk Program DTS 2021. Menurut Kabalitbang SDM Kementerian Kominfo, kolaborasi itu merupakan langkah awal agar memaksimalkan inovasi penerima Program Beasiswa S2 Kementerian Kominfo.

“Hasil penelitian yang dilakukan Umar Abdul Aziz ketika menyelesaikan program pasca sarjana  di Bangalore bisa digunakan atau diujicobakan pada teknologi pembelajaran untuk pelatihan DTS yang banyak dilakukan secara online,” ungkapnya.

Inovasi Pembelajaran

Namanya Umar Abdul Aziz. Ia bekerja di Centre for digital Society Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Penerima beasiswa Program Beasiswa S2 Luar Negeri Balitbang SDM Kementerian Kominfo Tahun 2019 itu berhasil merebut predikat mahasiswa terbaik di Program Studi Master of Digital Society International Institute of Information Technology Bangalore (IIITB)-India.

Umar lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,81 dari 4,00. Tertinggi di antara seluruh mahasiswa asal India maupun internasional. Bahkan Umar berhak mendapatkan Institute Gold Medal Master of Digital Society dalam 21st Convocation IIITB yang berlangsung daring Minggu (04/07/2021). Penghargaan itu diserahkan oleh Direktur IIITB, S. Sadagophan.

Minat Umar dalam bidang digital dan kebijakan publik tampak sejak mengambil S1. Kondisi pandemi Covid-19 juga memacu Umar berkontribusi dalam bidang digital terutama pendidikan di Indonesia.

“Saya ambil tesis sesuai minat saya. Saya meneliti tentang pengembangan profesi guru di masa pandemi untuk tesis saya, dengan judul Comparison of Different Methods of Online Teacher Professional Development (TPD) During Pandemic,” tutur Umar.

Umar menjelaskan dalam tesisnya, pandemi Covid-19 telah ‘memaksa’ sekolah di seluruh penjuru dunia menggunakan pembelajaran secara daring, termasuk di Indonesia. Menurutnya, kondisi itu membutuhkan pelatihan dengan metode yang tepat agar guru makin profesional dan mampu mengadopsi teknologi informatika di sekolah.

“Namun demikian, masih banyak guru tidak mampu menggunakan platform digital untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. Maka, saya pandang perlu ada pelatihan guru dengan menggunakan berbagai metode yang tepat,” tegas Umar.

Menurut Umar tiga metode pengembangan profesional guru yang berbeda yang dapat diperbandingkan yaitu pelatihan tatap muka, webinar, dan video tutorial.  Konon, Umar meneliti 179 guru di Indonesia sebagai responden dan menemukan adanya kelebihan dan kekurangan pada masing-masing metode.

“Beberapa faktor yang memengaruhi, kata Umar, antara lain kecepatan internet, biaya TPD, usia guru, serta pengetahuan sebelumnya terhadap aplikasi yang telah diperolehnya,” jelasnya.

Tesis itu akan segera diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi  dalam bahasa Indonesia dengan judul “Perbandingan Metode Pengembangan Profesional Guru di Indonesia.”

“Sebentar lagi buku ini akan muncul dalam bentuk digital yang nanti bisa diakses melalui Perpustakaan Digital Kemendikbudristek. Semoga buku ini nantinya bisa diakses oleh banyak guru di Indonesia dan juga yang memerlukannya sebagai referensi untuk studi/kajian lebih lanjut,” harap Umar.

Umar mengapresiasi peran Kementerian Kominfo sebagai fasilitator melalui Program Beasiswa S2 Luar Negeri.

“Semoga hal ini dapat kami ejawantahkan melalui kontribusi kami, para penerima beasiswa Kementerian kominfo, kepada Indonesia untuk menciptakan masyarakat digital yang jauh lebih baik,” ungkapnya.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di New Delhi, Lestyani Yuniarsih menyampaikan kebanggaan atas prestasi yang diraih mahasiswa Indonesia.

“Semoga Umar sukses berkarier dan berkontribusi bagi Indonesia. Prestasi yang dicapai ini juga saya berharap dapat menginspirasi mahasiswa Indonesia di India dan di seluruh dunia untuk tetap semangat belajar sambil membangun jejaring, sehingga begitu lulus sudah siap untuk diserap di dunia kerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja,” ungkapnya di New Delhi, India, Kamis (08/07/2021).

Program Beasiswa S2 Luar Negeri

Umar Abdul Aziz  merupakan salah satu dari 9 penerima beasiswa S2 Luar Negeri Tahun 2019. Ia berangkat ke India untuk mendalami studi Master of Digital Society. Tahun itu, sebanyak total 15 penerima beasiswa telah diberangkatkan oleh Kementerian Kominfo sebagai realisasi kerja sama Balitbang SDM Kementerian Kominfo dengan IIITB.

Menurut Umar Kementerian Kominfo memberikan fasilitasi penuh untuk mendukung kelancaran studi penerima beasiswa.

“Kami mendapatkan fasilitas pelatihan Bahasa Inggris dari Kominfo sebelum berangkat ke India. Perkuliahan di kelas juga dapat diikuti dengan baik karena para pengajar berkenan untuk mereview kembali materi yang dianggap sulit. Kita juga diberikan kelas pemograman dasar sehingga kita dapat mengejar perkuliahan teknis lainnya,” paparnya.

Kondisi pandemi Covid-19 membuat IIITB meminta mahasiswa internasional kembali ke negara asal. Hingga selesai masa perkuliahan di IIITB, Umar dan penerima beasiswa tahun 2018 dan 2019 difasilitasi kepulangannya ke Indonesia oleh Kementerian Kominfo dan KJRI pada Mei 2020.

Berkuliah di luar negeri, bagi Umar memberi kesempatan untuk berinteraksi langsng dengan perusahaan rintisan digital.

“Berkuliah di Bangalore juga memberikan kesempatan kepada kami untuk berinteraksi langsung dengan para perusahaan besar atau start-up digital disana. Hal ini memberikan pengalaman luar biasa yang mungkin sulit didapatkan di tempat lain,” ungkapnya.

Beasiswa ke India pertama kali diinisiasi tahun 2018 dengan pertimbangan kesetaraan level digital economy antara Indonesia dan India. Setiap penerima beasiswa diharapkan dapat mengambil pelajaran tentang kebijakan yang diambil Pemerintah India untuk mendorong digital ekonomi. Selain kualitas pendidikan, pemilihan IIITB sebagai mitra Balitbang SDM dilatari lokasi perguruan tinggi di Bangalore yang dikenal sebagai Sillicon Valley, India.

Web: www.kominfo.go.id

Tags: , , , , ,