Paguyuban Keluarga Saiyo Sakato, Menyatukan Keluarga Minang dan Jawa

Paguyuban Keluarga Saiyo Sakato, Menyatukan Keluarga Minang dan Jawa

Solok, (InfoPublikSolok) – Memiliki kesamaan identitas dengan Sumatera Barat, mayoritas penduduk yang mendiami Kota Solok merupakan Suku Minangkabau. Selain Minangkabau, Kota Solok juga telah menjadi rumah dan identitas bagi beraneka suku budaya lain di Indonesia.

Beraneka suku dan budaya itu telah lama hidup berdampingan dan bersatu dalam hal apapun. Salah satunya adalah paguyuban keluarga suku Jawa yang telah lama mendiami daerah Ampang Kualo, Kelurahan Kampung Jawa.

Kata paguyuban berasal dari bahasa Jawa, yaitu “guyub” yang artinya perkumpulan. “perkumpulan” ini sebetulnya lebih karena hubungan kekeluargaan karena ikatan darah dan perkawinan.

Pengertian paguyuban dari berbagai bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris disebut Community. Dalam bahasa Jerman disebut Organisation yang berarti Übersetzung tabellarisch anzeigen atau Übersetzungen mit gleichem Wortanfang, diartikan sebagai bentuk kehidupan bersama, dimana para anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal.

Paguyuban diartikan pula sebagai persekutuan atau kebersamaan aneka ragam orang dalam batas teritori dan kategori tertentu. Paguyuban juga diartikan sebagai perkumpulan yang bersifat kekeluargaan, didirikan orang-orang yang sepaham (sedarah) untuk membina persatuan (kerukunan) di antara para anggotanya dan didasari oleh rasa cinta dan rasa persatuan batin yang memang telah dikodratkan.

Berdasarkan dari pengertian paguyuban itu, maka keluar ide pertama dari Bundo Wiserni, istri dari Bapak Sutarjo.

Bundo Wiserni sendiri merupakan keturunan campuran Minang-Jawa. Ia memiliki keinginan menyatukan keluarga besar mereka yang berada di Kota Solok yang selama ini tidak saling kenal karena berjauhan tempat tinggal.

“Kegiatan ini untuk menyatukan kami, keluarga besar yang kadang saling tidak mengenali satu sama lainnya,” ujar Yurmaini (Ayung) salah satu kerabat dekat Bundo Wiserni.

Selanjutnya Yurmaini akan mencoba menyatukan Budaya Minang dengan Jawa dengan cara kolaborasi Seni Tari bagi anak-anak keturunan mereka yang berminat. Yurmaini juga seorang pendidik di TK Pembina Kota Solok.

Pertemuan pertama telah dilaksanakan pada tanggal 12 September 2021 lalu di rumah bapak Subagio, suami dari mbah Kemi yang tinggal di Kelurahan Tanjung Paku.

Dari pertemuan pertama ini dibentuklah susunan pengurus paguyuban dan terpilihlah Ketua Bundo Wiserni, Sekretaris Yurmaini, Bendahara Sri Wahyunu, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan program yang akan dikerjakan ke depannya.

Pada pertemuan di rumah bapak Subagio ini juga didapat kesepakatan nama Paguyuban Keluarga Saiyo Sakato (PKSS).

Keunikan dari paguyuban ini, menyatunya orang minang yang menjadi keluarga mereka dan diketuai pula oleh orang Minang, suatu perpaduan yang menyampaikan makna kebersamaan dan kerjasama yang baik walau berbeda suku dan etnik.

Kegiatan yang mereka laksanakan selain kegiatan rutin arisan bulanan, mereka juga melakukan kegiatan sosial untuk kelurga yang sakit dan meninggal, kemudian dalam waktu yang berjalan mereka akan menambah program untuk membesarkan nama Paguyuban Keluarga Saiyo Sakato.

Hari ini, Minggu (10/10) pertemuan kedua setelah paguyuban berdiri yang dilaksanakan di rumah Yurmaini di Ampang Kualo.

Pertemuan PKSS dilakukan setiap bulan dengan cara bergantian tempat lokasi kegiatan sesuai dengan kesepakatan dengan program yang berbeda pula. (shan)

Tags: , ,