Puskesmas Tanah Garam Gelar Workshop Bantuan Hidup Dasar RJP

Puskesmas Tanah Garam Gelar Workshop Bantuan Hidup Dasar RJP

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Tanah Garam menyelenggarakan workshop Bantuan Hidup Dasar Resusitasi Jantung Paru (RJP), selama empat hari dari Rabu s/d sabtu (24 s/d 27 Juli 2019) yang berlangsung di Aula Puskesmas Tanah Garam.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Ambun Kadri beserta staf dan 157 orang dari seluruh staf Puskesmas Tanah Garam terdiri dari 4 angkatan masing-masing angkatan 40 orang. Narasumber dalam workshop berasal dari Yayasan Tanggap Darurat Bencana Indonesia Adzanri, S.Kep. Sos, MH, dan Ns. Sumirah, S.Kep.

Dalam laporannya, Kepala Puskesmas Tanah Garam Mindasari mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan semua Staf Puskesmas Tanah Garam dalam keterampilan Resusitasi Jantung Paru, dengan melakukan teori dan praktek dengan materi Bantuan Hidup Dasar RJP.

“Pelatihan bantuan hidup dasar ini juga dalam rangka persiapan akreditasi sehingga diharapkan semua staf kompeten dalam keterampilan bantuan hidup dasar,” ungkap Mindasari

Pada pembukaan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok Ambun Kadri mengatakan workshop BHD ini sangat penting diikuti oleh semua staf Puskesmas Tanah Garam, karena orang yang terkena serangan henti nafas dan henti jantung mendadak membutuhkan tindakan RJP sesegera mungkin.

“Ikutilah workshop ini dengan sungguh-sungguh sehingga dapat diimplementasikan dalam pelayanan sehari-hari,” tuturnya.

Dalam paparan materinya, Adzanri mengatakan RJP adalah suatu tindakan gawat darurat akibat kegagalan sirkulasi dan pernafasan untuk dikembalikan ke fungsi optimal guna mencegah kematian biologis. Tubuh tidak pernah memiliki cadangan/ simpanan oksigen, oksigen harus selalu disuplai terus menerus dan airway/ jalan nafas, harus dipertahankan bebas. Langkah-langkah Resusitasi Jantung Paru (RJP) yaitu DRSCUAB, Danger (Pastikan Keamanan), Response (Cek Respon Pasien), Shout Call Ems (minta Bantuan, Aktifkan EMS), Circulation (Cek Nadi, Cek Nafas, Kompresi 30 x per menit, Airway (bebaskan Jalan nafas) dan Breathing (Beri bantuan nafas 2x).

Lebih lanjut, Adzanri mengatakan komplikasi dari RJP akibat bantuan nafas ada 2 yaitu Inflasi Gaster dan Regurgitasi. Akibat kompresi yaitu bisa menyebabkan fraktur iga, pneumothorak, hemothoraks, kontosio paru, laserasi hati dan amp (Limfa dan Emboli Lemak). Prinsip BHD (High Quality) adalah kedalaman 5-6 CM, recoil dada sempurna, kecepatan 100xmenit, hindarkan hiper ventilasi dan minimalkan interupsi. RJP dihentikan bila Sirkulasi dan Ventilasi spontan, Penolong kelelahan, DNR (Do Not Resuscitation), dan tanda kematian.

“Pelatihan bantuan hidup dasar ini sangat penting diikuti oleh Manajemen/ Pimpinan Puskesmas sampai staf Puskesmas dan sopir Ambulance, Satpam, Tenaga Administrasi serta Cleaning Service. Serangan jantung mendadak atau korban henti nafas memerlukan tindakan RJP sesegera mungkin ditempat kejadian oleh orang yang terdekat, apabila ditunggu petugas kesehatan terlatih lebih dari 15 menit kemungkinan korban bisa meninggal,” tuturnya. (es)

Tags: , , , , , ,