Sosialisasi Gizi Seimbang pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Peningkatan Mutu PMT

Sosialisasi Gizi Seimbang pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Peningkatan Mutu PMT

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan mengadakan kegiatan sosialisasi gizi seimbang pada 1000 hari pertama kehidupan dan peningkatan mutu PMT Tahun 2019, di Gedung Kubung XIII, Senin (26/8/2019). Acara dihadiri oleh Walikota Solok H. Zul Elfian, SH, M. Si, Ketua TP-PKK Kota Solok Dra. Hj. Zulmiyetti, M.KM, Kepala Dinas Kesehatan Dr.Hj.Ambun Kadri,MKM, Kabid P2 dan Kesmas dr. Pepy Ledy Soffiany dan Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat, Ns. Aprinur Azwira, S.Kep beserta staf. Kegiatan ini diikuti sebanyak 500 Peserta yang terdiri dari Kader Posyandu se Kota Solok dan TP PKK Kelurahan, dengan Narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, M.Sc, PhD, Sp.GK.

Dalam pembukaan, Ketua TP-PKK Kota Solok Dra. Hj. Zulmiyetti, M.KM, mengatakan Kekurangan gizi yang terjadi pada masa janin dan anak usia dini akan berdampak pada perkembangan otak dan rendahnya kemampuan kognitif yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dan keberhasilan pendidikan. Selain itu, kurang gizi yang dialami pada awal kehidupan juga berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik yang berujung pada kejadian penyakit tidak menular pada usia dewasa, seperti Diabetes Tipe II, Stroke, Penyakit Jantung, dan lainnya. Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak pada menurunnya produktivitas yang selanjutnya dapat mengahambat pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat. Karena itu peranan gizi terutama 1000 HPK sangat penting dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Lebih lanjut, Dra. Hj. Zulmiyetti, M.KM mengatakan PKK dan kader memiliki peranan amat penting dalam mengatasi masalah gizi yang ada di masyarakat, terutama dalam pembinaan di masyarakat melalui PKK RT/RW dan dasawisma.

“Kerjasama dan koordinasi antara jajaran PKK dan kader posyandu balita mempunyai peran krusial dalam pengembangan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan PKK sesuai dengan 10 Program Pokoknya, yang mampu secara langsung mengatasi masalah kesehatan khususnya masalah gizi dalam pencegahan kasus stunting di Kota Solok,” tuturnya.

Sementara itu, Walikota Solok H. Zul Elfian, SH, M. Si mengatakan sebagai investasi utama pengembangan Sumber Daya Manusia, pembangunan kesehatan berkelanjutan mutlak diperlukan, dimana salah satu komponen utamanya adalah melalui perbaikan gizi masyarakat, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan. Status gizi dan kesehatan ibu dan anak sebagai penentu kualitas sumber daya manusia, status gizi dan kesehatan ibu pada masa prahamil, saat kehamilannya dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis. Periode seribu hari, yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi, tuturnya.

Berbagai dampak dari kekurangan gizi yang pada masa 1000 hari pertama kehidupan, berdampak dalam bentuk kurang optimalnya kualitas manusia, baik diukur dari kemampuan mencapai tingkat pendidikan yang tinggi, rendahnya daya saing, rentannya terhadap PTM, yang semuanya bermuara pada menurunnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain kekurangan gizi dapat memiskinkan masyarakat.  Suatu yang menggembirakan bahwa berbagai masalah tersebut diatas bukan disebabkan terutama oleh faktor genetik yang tidak dapat diperbaiki seperti diduga oleh sebagian masyarakat, melainkan oleh karena faktor lingkungan hidup yang dapat diperbaiki dengan fokus pada masa 1000 HPK.  Investasi gizi untuk kelompok ini harus dipandang sebagai bagian investasi untuk menanggulangi kemiskinan melalui peningkatan pendidikan dan kesehatan, tuturnya.

Dalam materinya, Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, M.Sc, PhD, Sp.GK menerangkan dampak yang ditimbulkan akibat kurang gizi pada periode ini bersifat permanen dan berjangka panjang, ASI merupakan makanan paling sesuai untuk semua BBL termasuk bayi prematur. ASI memiliki keuntungan-keuntungan gizi, imunologi dan fisiologi dibandingkan susu formula komersial atau jenis susu lainnya. ASI terutama sangat penting bagi negara-negara berkembang dimana biaya dan metode persiapan susu formula bisa mengarah kepada asupan gizi yang tidak memadai dan penyakit.

Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, M.Sc, PhD, Sp.GK mengatakan penyebab ASI kurang yaitu menyusui tidak sering, menyusui terlalu cepat atau buru-buru,tidak menyusui malam hari, salah posisi menyusui, reflex oksitosin jelek (ibu cemas atau kurang PD), pembangkakan payudara atau mastitis. Adapun anjuran pemberian ASI yaitu 0-6 bulan : ASI eksklusif memenuhi 100% kebutuhan, 6-12 bulan : ASI memenuhi 60-70% kebutuhan, perlu makanan pendamping ASI (MPASI) yang adekuat,  >12 bulan :ASI hanya memenuhi 30% kebutuhan, ASI tetap diberikan untuk keuntungan lainnya. Pesan inti 1000 HPK selama hamil antara lain makan makanan beraneka ragam, memeriksa kehamilan 4 x selama kehamilan, minum tablet tambah darah, bayi yang baru lahir Inisiasi menyusui dini (IMD), berikan ASI eksklusif selama 6 bulan, timbang BB bayi secara rutin setiap bulan, berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi, lanjutkan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun, berikan MP ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI, tutur Nur Indrawaty Lipoeto mengakhiri materinya.(es)

Tags: , , ,