Kasus Pertusis Ditemukan di Kota Solok, Orang Tua Diimbau Lengkapi Imunisasi Anak

Kasus Pertusis Ditemukan di Kota Solok, Orang Tua Diimbau Lengkapi Imunisasi Anak

Solok, InfoPublikSolok – Munculnya sejumlah kasus pertusis di Kota Solok menjadi perhatian dalam upaya perlindungan kesehatan anak. Kondisi tersebut sekaligus memperkuat pentingnya pelaksanaan imunisasi kejar bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap sesuai jadwal.

Pertusis atau yang dikenal sebagai batuk rejan merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang dapat menyebabkan batuk berkepanjangan. Di tengah upaya pencegahan melalui imunisasi, munculnya kasus pertusis menjadi pengingat bahwa perlindungan anak melalui imunisasi tetap perlu diperkuat.

Penjelasan mengenai pertusis, imunisasi kejar, manfaat imunisasi DPT serta reaksi yang mungkin muncul setelah imunisasi disampaikan Dokter Spesialis Anak, dr. IGM Afridoni Araditha, Sp.A, melalui akun Instagram Puskesmas Tanah Garam, Rabu, (7/10/26).

Dalam keterangannya, dr. Afridoni menjelaskan bahwa imunisasi kejar ditujukan untuk mengejar ketertinggalan imunisasi pada anak yang seharusnya sudah mendapatkan vaksinasi, tetapi belum atau belum lengkap menerimanya.

“Imunisasi kejar ini untuk mengejar ketertinggalan anak-anak kita yang seharusnya sudah mendapatkan vaksinasi, tetapi belum melakukan imunisasi. Jadi kita kejar imunisasinya agar lengkap,” jelasnya dalam materi edukasi yang dipublikasikan Puskesmas Tanah Garam melalui Instagram.

Menurutnya, penguatan imunisasi kejar di Kota Solok menjadi semakin penting setelah ditemukan kasus pertusis. Penyakit yang dikenal masyarakat sebagai batuk rejan atau batuk 100 hari tersebut dapat menyebabkan batuk berulang dan berkepanjangan.

“Seharusnya pertusis ini sudah tidak ada lagi, tetapi karena ada anak yang tidak diimunisasi, sekarang muncul anak yang terinfeksi pertusis,” ujarnya.

Salah satu imunisasi yang penting untuk mencegah pertusis adalah vaksin DPT, yang memberikan perlindungan terhadap difteri, pertusis dan tetanus.

Dr. Afridoni juga mengingatkan orang tua agar tidak khawatir terhadap reaksi yang mungkin muncul setelah anak menerima imunisasi DPT. Demam setelah imunisasi merupakan salah satu reaksi tubuh terhadap vaksin dan bukan berarti vaksin menyebabkan anak sakit.

“Jangan takut bapak dan ibu jika anak demam setelah imunisasi. Itu merupakan reaksi tubuh terhadap vaksin. Anak sedang dipersiapkan agar memiliki perlindungan untuk melawan penyakit,” jelasnya.

Demam setelah imunisasi dapat ditangani dengan pemberian obat penurun panas sesuai anjuran tenaga kesehatan. Orang tua tetap dianjurkan memantau kondisi anak setelah imunisasi.

Selain demam, reaksi lain yang dapat muncul adalah reaksi setempat pada lokasi penyuntikan, seperti bengkak atau rasa tidak nyaman. Kondisi tersebut dapat ditangani dengan kompres dingin dan biasanya akan membaik. Apabila tidak membaik atau orang tua merasa khawatir, kondisi anak dapat dilaporkan kepada petugas kesehatan di puskesmas.

Dr. Afridoni juga menjelaskan bahwa kejang yang terjadi setelah imunisasi perlu diperhatikan secara tepat. Pada sebagian anak, demam dapat menjadi pemicu kejang demam, terutama pada anak yang memiliki riwayat kejang demam dalam keluarga.

Dalam kondisi tersebut, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan.

Ia menekankan agar orang tua tidak menjadikan kemungkinan munculnya reaksi pascaimunisasi sebagai alasan untuk menghindari imunisasi. Perlindungan yang diberikan imunisasi merupakan bagian penting dalam mencegah penyakit yang dapat menimbulkan dampak lebih berat pada anak.

Pelaksanaan imunisasi kejar di Kota Solok memiliki dasar Surat Edaran Wali Kota Solok Nomor B/400.7.7.2/453/DINKES-2026 tentang Pelaksanaan Bulan Imunisasi Kejar (BIK) Nasional Tahun 2026 di Kota Solok. Kegiatan imunisasi kejar tersebut dilaksanakan selama 1–31 Oktober 2026, sebagai upaya mengejar ketertinggalan imunisasi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi sesuai jadwal atau belum melengkapi imunisasi dasarnya.

Melalui pelaksanaan imunisasi kejar tersebut, pemerintah daerah mendorong agar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sesuai jadwal dapat segera memperoleh imunisasi yang dibutuhkan sehingga status imunisasinya menjadi lengkap.

Upaya tersebut menjadi semakin penting untuk membangun perlindungan bersama. Semakin banyak anak yang mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, semakin kuat pula perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.

Karena itu, orang tua dan keluarga di Kota Solok diimbau tidak menunda imunisasi anak. Orang tua dapat memastikan kembali riwayat dan kelengkapan imunisasi anak serta berkonsultasi dengan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan apabila masih terdapat imunisasi yang belum diterima.

Imunisasi bukan hanya tentang mencegah anak sakit hari ini, tetapi juga membangun perlindungan anak terhadap penyakit yang dapat dicegah sejak dini.


Komentar

Tinggalkan komentar