Pemko Solok Kembangkan Budidaya Krisan, Payo Diproyeksikan Jadi Sentra Tanaman Hias
Solok, InfoPublikSolok - Pemerintah Kota Solok melalui Dinas Pertanian dan Pangan mulai mengembangkan budidaya bunga krisan di kawasan Payo, Kelurahan Tanah Garam. Pengembangan komoditas tanaman hias ini menjadi salah satu upaya untuk memanfaatkan potensi wilayah sekaligus membuka peluang pengembangan usaha hortikultura yang memiliki prospek pasar.
Sebagai tahap awal, sebanyak 2.000 bibit bunga krisan telah dibudidayakan di dalam screenhouse yang berada di kawasan Payo. Pembibitan tersebut menjadi bagian dari kegiatan percontohan untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan berbagai varietas krisan yang sesuai dengan kondisi agroklimat Kota Solok.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Solok, Joni Harnedi, SP, mengatakan kawasan Payo dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki kondisi iklim dan ketinggian tempat yang dinilai sesuai untuk pengembangan bunga krisan.
“Pembibitan bunga krisan sudah berjalan beberapa hari. Setelah ini akan dilakukan monitoring dan perawatan secara berkala, termasuk melihat tanaman yang tidak tumbuh untuk kemudian dilakukan penyulaman,” jelas Joni, Jumat (18/9).
Dalam tahap awal budidaya tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan menanam beberapa varietas bunga krisan. Penggunaan beberapa varietas sekaligus diharapkan dapat menjadi bahan pengamatan untuk mengetahui varietas yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada kondisi lingkungan setempat.
Menurut Joni, bunga krisan memiliki peluang untuk dikembangkan karena kebutuhan terhadap bunga potong dan tanaman hias cukup beragam. Di Kota Solok sendiri, pemanfaatannya antara lain untuk berbagai kegiatan atau event, kebutuhan penjual buket bunga, serta dekorasi dan hiasan ruangan.
“Permintaan bunga krisan di Kota Solok antara lain berasal dari kebutuhan event, penjual buket dan untuk hiasan ruangan. Ini menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan ke depan,” ujarnya.
Dari sisi produksi, bunga krisan relatif memiliki siklus panen yang tidak terlalu panjang. Tanaman umumnya dapat dipanen sekitar 8–12 minggu setelah ditanam, meskipun waktu tersebut dapat berbeda tergantung varietas, kondisi lingkungan, teknik budidaya, dan musim.
Dengan karakteristik tersebut, budidaya krisan berpotensi menjadi salah satu pilihan usaha hortikultura yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Selain menghasilkan produk berupa bunga potong, pengembangan krisan juga dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan dekorasi kegiatan pemerintahan maupun masyarakat, usaha buket, florist, hingga kebutuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Keberadaan screenhouse juga menjadi bagian penting dalam pengembangan budidaya krisan karena memungkinkan tanaman mendapatkan lingkungan tumbuh yang lebih terkontrol. Melalui pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman, kondisi media, kebutuhan air, pemeliharaan, hingga hasil bunga yang diperoleh, pemerintah daerah dapat memperoleh gambaran teknis sebagai dasar untuk pengembangan budidaya dalam skala yang lebih luas.
Pengembangan bunga krisan di Payo juga sejalan dengan upaya mendorong diversifikasi komoditas hortikultura di Kota Solok. Jika hasil percontohan menunjukkan pertumbuhan dan produksi yang baik, komoditas ini dapat dikembangkan lebih lanjut melalui peningkatan kapasitas budidaya, penguatan keterampilan petani, serta pengembangan pemasaran.
Ke depan, pengembangan krisan tidak hanya diarahkan pada aspek produksi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem tanaman hias di Kota Solok. Ketersediaan produksi lokal diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan pasar sekaligus memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha di bidang tanaman hias.
“Harapan kita kegiatan ini dapat berjalan lancar. Mudah-mudahan ke depan Kota Solok dapat menjadi salah satu sentra produksi tanaman hias, khususnya bunga krisan,” pungkas Joni.





















