Pemko Solok Kaji Teknologi Pengolahan Sampah untuk TPST Tahun 2027

Pemko Solok Kaji Teknologi Pengolahan Sampah untuk TPST Tahun 2027

Bukittinggi, InfoPublikSolok — Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kota Solok melakukan kunjungan berbagi informasi terkait rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) ke Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Bukittinggi, Rabu (5/3/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas PerkimLH Kota Solok, Hanif, S.Sos, MM, didampingi Kepala Bidang Pengelolaan Sampah LB3 dan Peningkatan Kapasitas Hendra Pilo, ST, beserta staf. 

Hanif menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya informasi sekaligus memperkuat penyusunan proposal pembangunan TPST di Kota Solok. Rencana pembangunan tersebut akan diusulkan melalui skema pendanaan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) pada tahun anggaran 2027.

“Melalui kegiatan sharing ini, kita ingin memperkuat substansi proposal yang akan diajukan serta meminimalkan risiko ketidaksesuaian teknis dalam proses pengusulan pembangunan TPST nantinya,” ujar Hanif.

Selain itu, kunjungan ini juga menjadi tindak lanjut atas keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Solok serta upaya pengembangan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Menurut Hanif, Kota Bukittinggi dipilih sebagai lokasi studi karena telah lebih dulu membangun dan mengoperasikan TPST dengan sistem pirolisis. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi, timbulan sampah di kota tersebut mencapai sekitar 120 ton per hari, dengan sekitar 20 persen diolah di TPS. Sementara itu, timbulan sampah di Kota Solok mencapai sekitar 60 ton per hari dan sebagian besar berupa sampah organik.

Sistem pirolisis sendiri merupakan teknologi pengolahan sampah modern yang mengubah sampah, terutama plastik dan limbah organik, menjadi bahan bakar atau energi alternatif melalui proses dekomposisi termal tanpa oksigen. Meski demikian, teknologi ini juga memiliki tantangan, salah satunya potensi emisi gas berbahaya apabila tidak dilengkapi sistem pembersihan gas buang yang memadai.

Hanif menegaskan bahwa pihaknya akan mengkaji lebih lanjut apakah sistem pirolisis tersebut sesuai untuk diterapkan di Kota Solok.

“Kunjungan ini bukan untuk langsung meniru, tetapi sebagai bahan pembelajaran. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Kota Solok, termasuk menyiapkan lokasi yang tepat untuk pembangunan TPST. Saat ini, lokasi yang sedang dipertimbangkan berada di kawasan Ampang Kualo,” jelasnya.

Selain sistem pirolisis, terdapat pula alternatif teknologi lain yang dipertimbangkan, seperti sistem insinerator dan Refuse Derived Fuel (RDF). Insinerator merupakan teknologi pengolahan sampah dengan cara pembakaran pada suhu tinggi, sedangkan RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah melalui proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan hingga kadar airnya di bawah 25 persen.

Dari beberapa opsi tersebut, sistem RDF dinilai memiliki potensi paling sesuai untuk diterapkan di Kota Solok. Hal ini mengingat komposisi sampah di kota tersebut didominasi oleh sampah organik sehingga lebih ramah lingkungan dari sisi emisi. Selain itu, sistem ini juga telah berhasil diterapkan di Kota Cilegon.

Pemerintah Kota Solok berharap kajian ini dapat menghasilkan sistem pengolahan sampah yang efektif, berkelanjutan, serta mampu mengurangi beban TPA di masa mendatang.


Komentar

Tinggalkan komentar