Dukung Riset Kampus, Pemko Solok Jajaki Kolaborasi Teknologi Pengolahan Sampah Plastik
Solok, InfoPublikSolok - Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DisperkimLH) Kota Solok terus membuka ruang bagi pengembangan teknologi tepat guna dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan. Komitmen ini ditunjukkan melalui pertemuan intensif jajaran DisperkimLH bersama dosen pendamping dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Fort De Kock Bukittinggi di Posko Rusunawa Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Solok, Kamis (9/7).
Pertemuan strategis tersebut dihadiri oleh Sekretaris Dinas PerkimLH Kota Solok Novri Aprilizen, S.STP, M.Si, Kepala Bidang PSLB3PK Hendra Pilo, ST, Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Madya Agus Susanto, SH, beserta staf teknis terkait.
Agenda utama pertemuan ini adalah pemaparan hasil riset aplikatif oleh tim akademisi Universitas Fort De Kock mengenai alat prototipe bernama "Predator". Alat inovatif ini dirancang khusus untuk mengolah limbah sampah plastik menjadi produk bernilai guna, seperti paving block dan Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif. Saat ini, mesin prototipe tersebut berada dalam fase pengembangan dengan kapasitas konversi mencapai 10 kilogram sampah plastik dalam sekali proses pengolahan.
Pihak akademisi Universitas Fort De Kock menjelaskan bahwa riset ini lahir sebagai solusi konkret untuk menekan laju akumulasi sampah plastik yang sulit terurai secara alami.
"Penelitian ini merupakan langkah nyata kami dalam memanfaatkan limbah plastik agar memiliki nilai ekonomi baru. Mesin 'Predator' ini masih terus kami kembangkan secara intensif. Kami sangat berharap inovasi teknologi ini bisa membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan Pemerintah Kota Solok demi pengelolaan sampah yang lebih efektif di masa depan," urai perwakilan dosen Universitas Fort De Kock.
Merespons paparan inovatif tersebut, Sekretaris Dinas PerkimLH Kota Solok, Novri Aprilizen, S.STP, M.Si, menyambut positif setiap terobosan teknologi yang diinisiasi oleh sektor perguruan tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa penerapan teknologi di skala publik memerlukan kajian ilmiah yang matang dan komprehensif.
"Pemerintah Kota Solok sangat mendukung lahirnya inovasi yang bertujuan mengurangi timbulan sampah di daerah. Namun, agar teknologi ini dapat diimplementasikan secara massal, penerapannya harus didukung oleh data kajian yang memadai. Kita perlu memastikan seluruh aspek manfaat, efisiensi anggaran, hingga dampak lingkungannya telah teruji secara menyeluruh," jelas Novri Aprilizen.
Senada dengan hal itu, Penyuluh Lingkungan Ahli Madya DisperkimLH, Agus Susanto, SH, menggarisbawahi pentingnya pemenuhan standar keamanan operasional, terutama terkait dengan emisi gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran plastik.
"Aspek teknis, uji kelayakan mekanis, serta pengujian emisi udara harus menjadi perhatian utama. Kita harus menjamin bahwa teknologi pengolahan sampah ini aman bagi operator di lapangan, tidak menimbulkan pencemaran udara baru di lingkungan sekitar, dan memenuhi standar keberlanjutan," tegas Agus.
Diskusi interaktif ini ditutup dengan kesepakatan untuk melakukan kajian lebih mendalam. Hasil evaluasi dan pengembangan lebih lanjut terhadap teknologi "Predator" ini nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan strategis bagi Pemerintah Kota Solok dalam menentukan arah kebijakan pengelolaan sampah plastik yang aman, modern, dan berkelanjutan di wilayah Kota Solok.





















