Kelola Sampah Organik, Dasawisma Melati 9 Didorong Lebih Mandir
Solok, InfoPublikSolok – Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kota Solok melaksanakan pembinaan dan sosialisasi pengelolaan sampah kepada Dasawisma Melati 9, Kelurahan Tanah Garam, Jumat (7/11). Kegiatan ini difokuskan pada upaya penanganan sampah organik sekaligus peningkatan nilai ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sampah menjadi pakan ternak dan pupuk.
Pembinaan ini mencakup kegiatan sosialisasi, pendampingan, serta dukungan teknis yang bertujuan mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk membuka peluang usaha berkelanjutan berbasis pengelolaan sampah rumah tangga.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas (PSLB3PK) PerkimLH Kota Solok, Hendrapilo, ST, menjelaskan bahwa Dasawisma Melati 9 yang beranggotakan 16 kepala keluarga merupakan salah satu dasawisma berprestasi di tingkat Kota Solok.
“Dasawisma Melati 9 termasuk dasawisma berprestasi. Mereka aktif melaksanakan gotong royong yang melibatkan bapak-bapak, ibu-ibu, hingga pemuda dan remaja. Selain itu, kegiatan sosial dan keagamaan seperti pengajian rutin setiap Jumat juga berjalan dengan baik. Ini menjadi modal kuat dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” jelasnya.
Hendrapilo juga menambahkan bahwa Dasawisma Melati 9 telah memanfaatkan sampah organik sebagai pakan maggot. Namun, masih diperlukan peningkatan pemahaman terkait pengklasifikasian jenis sampah plastik, terutama dalam memilah plastik yang dapat diolah kembali dan yang memiliki nilai jual.
Menurutnya, budidaya maggot memiliki banyak manfaat, khususnya dalam mengurangi volume sampah organik. Melalui pengelolaan sampah organik berbasis maggot, permasalahan persampahan dapat ditekan secara signifikan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sementara itu, narasumber lainnya, Agus Susanto, SH, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah yang baik bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah plastik dan organik yang harus diangkut dan diproses di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Dengan pengelolaan sampah dari sumbernya, jam operasional angkutan sampah dapat dikurangi. Artinya, biaya operasional pengangkutan juga menurun, termasuk pengurangan biaya retribusi yang dibayarkan ke TPA Regional,” terangnya.
Agus juga menekankan bahwa ketika sampah mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah akan tumbuh secara alami melalui pemanfaatan dan pendayagunaan sampah tersebut.
Kegiatan pembinaan ini diikuti dengan antusias oleh peserta yang didominasi oleh ibu-ibu anggota Dasawisma. Para peserta aktif berdiskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan kepada narasumber. Materi yang disampaikan terkait manfaat, kegunaan, dan teknik pengelolaan sampah dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh peserta.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Dasawisma Melati 9 dapat menjadi percontohan pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi di Kota Solok serta menginspirasi dasawisma lainnya untuk turut berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berdaya guna.























