Perkuat Ketangguhan Satuan Pendidikan, BGTK Sumbar Gelar Kesiapsiagaan Bencana dan Dukungan Psikososial di Kota Solok
Solok, InfoPublikSolok - Dalam rangka meningkatkan kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana serta memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP), Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Sumatera Barat melaksanakan Training of Trainers (TOT) Fasilitator Daerah Kesiapsiagaan Bencana dan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) di Kota Solok.
Kegiatan yang berlangsung pada 21-23 September 2026 ini dilaksanakan secara serentak di sejumlah lokasi dan satuan pendidikan di Kota Solok, dengan peserta dari berbagai jenjang pendidikan sesuai dengan lokasi dan sasaran kegiatan.
Salah satu lokasi pelaksanaan adalah Aula Dinas Pendidikan Kota Solok, yang secara khusus menjadi tempat pelaksanaan kegiatan bagi GTK jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Sementara itu, kegiatan dengan tema dan tujuan serupa juga dilaksanakan di sejumlah satuan pendidikan lainnya, yaitu di SDN 05 VI Suku, SMPN 2 Kota Solok, SMPN 4 Kota Solok, dan SMPN 5 Kota Solok.
Pelaksanaan kegiatan di beberapa lokasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas penguatan kapasitas GTK agar satuan pendidikan di Kota Solok memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Pada pelaksanaan di Aula Dinas Pendidikan Kota Solok, peserta dari jenjang PAUD/TK mendapatkan pembekalan mengenai kesiapsiagaan bencana dan Layanan Dukungan Psikososial.
Hal ini menjadi penting karena anak usia dini membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus dalam menghadapi situasi darurat. Guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu memberikan perlindungan, menciptakan rasa aman, serta mendampingi peserta didik selama dan setelah terjadi bencana.
Kegiatan di Aula Dinas Pendidikan menghadirkan narasumber, di antaranya Bismil Fattullah dan Megi Desfita dari Dinas Pendidikan.
Bismil Fattullah menyampaikan bahwa kesiapsiagaan perlu dipersiapkan sebelum bencana terjadi. Menurutnya, GTK memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan peserta didik serta membantu menciptakan lingkungan satuan pendidikan yang siap menghadapi kondisi darurat.
“Kesiapsiagaan tidak hanya berbicara tentang tindakan ketika bencana terjadi, tetapi juga bagaimana kita mempersiapkan satuan pendidikan sejak sebelum bencana. Guru dan tenaga kependidikan harus mengetahui langkah yang tepat agar dapat memberikan perlindungan kepada peserta didik,” ujarnya.
Sementara itu, Megi Desfita menekankan pentingnya aspek psikososial dalam penanganan bencana. Menurutnya, peserta didik yang terdampak bencana membutuhkan dukungan agar dapat kembali merasa aman dan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
“Dalam situasi bencana, keselamatan fisik merupakan hal yang utama, tetapi dukungan psikososial juga tidak kalah penting. Anak-anak membutuhkan pendampingan dan rasa aman agar proses pemulihan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Dengan adanya TOT ini, diharapkan dapat menjangkau lebih banyak GTK dan memperkuat kesiapsiagaan satuan pendidikan secara menyeluruh.
Penguatan tersebut mencakup kemampuan dalam melakukan pencegahan dan mitigasi risiko bencana, kesiapan menghadapi kondisi darurat, penyelamatan dan perlindungan peserta didik, hingga dukungan psikososial pada masa pemulihan.
Peserta diharapkan mampu menjadi penggerak dan fasilitator kesiapsiagaan bencana di satuan pendidikan masing-masing serta meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada warga satuan pendidikan lainnya.
Kegiatan TOT yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi bagian dari kolaborasi dalam membangun satuan pendidikan yang aman, tangguh, siap menghadapi bencana, dan mampu memberikan dukungan kepada peserta didik dalam setiap tahapan penanggulangan bencana.














